Gerakan Kotak Kosong dan Perlawanan Demokrasi di Pilkada Humbang Hasundutan 2020
Fenomena calon tunggal dalam Pilkada sering dianggap sebagai tanda menurunnya kualitas demokrasi karena masyarakat kehilangan alternatif pilihan politik. Artikel ini membahas bagaimana gerakan relawan “kotak kosong” di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, berhasil membangun mobilisasi politik masyarakat untuk menghadapi calon tunggal pada Pilkada 2020.
Gerakan ini dipelopori oleh Forum Peduli Demokrasi Humbang Hasundutan (FPDHH) sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap partai politik yang dinilai membatasi pilihan calon kepala daerah. Melalui pendekatan sosial dan komunikasi yang intensif, FPDHH membangun jaringan dukungan dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, hingga kelompok masyarakat sipil lainnya.
Untuk memperkuat gerakan, relawan membangun lebih dari seribu posko di berbagai wilayah sebagai pusat koordinasi, edukasi politik, dan konsolidasi masyarakat. Selain itu, kampanye dilakukan melalui pendekatan door to door, mobil kampanye, hingga pemanfaatan jaringan sosial masyarakat lokal.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan mobilisasi politik sangat dipengaruhi oleh kekuatan jaringan sosial, dukungan finansial, serta legitimasi dari tokoh-tokoh berpengaruh di daerah. Meski menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya literasi politik masyarakat, praktik politik uang, hingga keterbatasan regulasi kampanye kotak kosong, gerakan ini tetap mampu memperoleh dukungan signifikan.
Hasil Pilkada menunjukkan bahwa pasangan calon tunggal hanya unggul tipis sekitar 5 persen dari suara kotak kosong. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa gerakan masyarakat sipil memiliki kekuatan nyata dalam menjaga nilai demokrasi dan mendorong partisipasi politik masyarakat di tingkat lokal.
Artikel ditulis oleh Riky Ovaliansyah Harahap & Meidi Kosandi dalam judul "Mobilization of the Empty Box Volunteer Movement to Face the Single Candidate in the 2020 Pilkada of Humbang Hasundutan Regency, North Sumatra Province" dan telah terpublikasi pada JurnaI Perspektif