Diamnya Pemimpin Dunia saat Genosida Terjadi di Depan Mata

16 Apr 2026 33
Diamnya Pemimpin Dunia saat Genosida Terjadi di Depan Mata

Konflik antara Israel dan Palestina makin menggila. Hingga hari ini tercatat sudah lebih dari 60.000 rakyat sipil tewas dalam pertikaian yang terjadi sejak 2024 silam.

Berbicara tentang konflik Israel-Palestina merupakan hal yang kompleks. Sejarah yang begitu rumit, yang menjadikan kedua negara ini saling memperebutkan teritorial.

Namun, jika melihat dari kemampuan dari kedua belah pihak, maka Israel yang diuntungkan. Israel memiliki semua perlengkapan militer yang lengkap dan canggih. Sementara itu, Palestina hanya memiliki alat seadanya, di mana untuk melakukan self-defense, atau pertahanan saja mereka tidak mampu.  

Konflik ini tentu merugikan rakyat sipil Palestina yang harus hidup dalam ketakutan. Setiap harinya ratusan jiwa tewas akibat kurangnya tim medis, perlengkapan makanan, dan kebutuhan gizi bagi bayi serta ibu hamil. 

Tidak ada satu tindakan pun yang membenarkan penyerangan Israel terhadap Palestina, dan tidak perlu berunding cukup jauh untuk menyatakan pelanggaran yang dilakukan oleh Israel. Mulai dari pelanggaran terhadap hak asasi manusia (principle of human rights), Konvensi Jenewa (Geneva Convention), dan pelanggaran-pelanggaran lainnya. 

Sayangnya, negara-negara barat yang selalu menggaungkan nilai-nilai demokrasi (democratic values) dan kebebasan sipil (civil liberties) malah bungkam atas kekejaman Israel terhadap Palestina. Satu hal yang perlu dipertanyakan, apakah hak asasi manusia hanya berlaku terhadap mereka yang berkulit putih? Atau makin gelap warna kulit, maka makin sedikit hak dan kebebasan yang diberikan? 

Negara Barat memaksa negara Timur untuk mengikuti peradaban dan nilai-nilai demokrasi mereka. Namun, mereka sendiri merusak nilai-nilai moral dari negara Timur tanpa memikirkan dampak yang terjadi terhadap rakyat sipil. 

Israel terus membenarkan tindakan mereka terhadap Palestina sebagai pertahanan diri dari serangan Hamas. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah akankah Hamas berdiri tanpa Israel? Tidak. Hamas tidak akan ada tanpa adanya Israel. 

Sejak negara Israel didirikan secara ilegal pada tahun 1948, bangsa Palestina terus mengalami pengusiran dari tanah air mereka, pergerakan mereka dibatasi, dan mereka hidup dalam blokade yang tak berkesudahan. Maka Hamas berdiri sebagai bentuk dari pemberontakan mereka terhadap perlakuan Israel. Sebab, tidak ada satu negara pun yang mampu menyudahi penindasan yang terus mereka alami. 

Tetapi saat ini yang lebih menakutkan lagi adalah Israel tidak melakukan penyerangan terhadap Hamas dengan peralatan militer, namun melaparkan seluruh penduduk Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak. Ini tentu akan memberikan dampak yang mengerikan, di mana seluruh penduduk Gaza terancam mati kelaparan dan punah.

Ini bukan lagi konflik, melainkan genosida. Israel mencoba memusnahkan seluruh penduduk Palestina, khususnya di Gaza, dengan memblokade seluruh asupan bantuan atas dasar tuduhan bahwa Hamas mencuri penyediaan bantuan makanan untuk warga sipil. 

Sampai hari ini umat muslim dan para aktivis terus menyuarakan dukungan mereka terhadap Palestina, namun semuanya nihil tanpa tindakan politik yang nyata. Seluruh negara di dunia, khususnya negara muslim, perlu bersatu untuk memberikan suara dan dukungan mereka terhadap Palestina dengan mengakuinya sebagai negara yang berdaulat untuk menyelamatkan warga Gaza dari keganasan genosida.


Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Diamnya Pemimpin Dunia saat Genosida Terjadi di Depan Mata, https://bangka.tribunnews.com/2025/08/08/diamnya-pemimpin-dunia-saat-genosida-terjadi-di-depan-mata.