Pendidikan Karakter bagi Remaja Tanggung Jawab Kita Semua
27 Feb 2026 164
Reza Adriantika Suntara, S.Pd., M.Pd.
Dosen Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Beberapa waktu lalu jagat media dikagetkan dengan berita pembunuhan yang dilakukan oleh dua remaja terhadap anak berusia 11 tahun, sungguh tindakan yang sangat mengerikan sekaligus memilukan bagi siapa pun yang membacanya. Pembunuhan tersebut ditengarai terjadi karena adanya dorongan dalam diri para pelaku untuk menjual organ dalam tubuh korban, yang didasari pengetahuan pelaku mengenai jual beli organ tubuh yang mereka akses melalui internet. Kasus tersebut seakan-akan menggambarkan sebuah ironi yang terjadi pada para remaja dewasa ini, sekaligus menunjukkan menurunnya kualitas karakter dalam diri remaja.
Karakter Bangsa Indonesia
Membahas mengenai karakter bangsa maka akan merujuk pada karakter individu terlebih dahulu, karena sejatinya karakter merupakan suatu sifat kejiwaan atau budi pekerti yang dimiliki oleh seseorang. Adapun karakter bangsa adalah perilaku kolektif kebangsaan yang dicerminkan oleh warga negaranya yang khas.
Karakter terdiri atas karakter privat dan karakter publik. Keduanya penting dimiliki oleh setiap warga negara karena harmonisasi di antara keduanya dapat menimbulkan terbentuknya karakter kolektif yang baik dan kuat.
Karakter privat berkaitan dengan sifat dan sikap yang ada dalam diri individu seperti kedisiplinan, tanggung jawab moral, jujur, serta sikap lain yang mencirikan integritas dirinya sebagai individu yang bermartabat. Adapun karakter publik berkaitan dengan tanggung jawab setiap individu sebagai seorang warga negara yang sopan, menaati nilai dan norma kehidupan, hingga kemampuan bersosialisasi dengan individu lainnya.
Merujuk akan pentingnya kepemilikan karakter baik dalam diri warga negara, Indonesia sejatinya telah sejak lama mengembangkan karakter sebagai suatu konsep penting untuk diajarkan dari generasi ke generasi. Ki Hadjar Dewantara menguraikan filosofi pendidikan karakter yang terurai dalam olah hati (etika), olahraga (kinestetika), olah pikir (literasi), serta olah karsa (estetika). Apakah keempatnya telah terlaksana melalui pendidikan karakter dengan baik hingga saat ini?
Merujuk pada realitas sosial, dewasa ini pendidikan karakter seakan-akan belum terlaksana optimal. Hal tersebut dicirikan dengan masih maraknya beragam kasus dan masalah yang cenderung dilakukan oleh para remaja. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar sekaligus fakta penting bahwa pendidikan karakter perlu terus diupayakan dengan berlandaskan pada nilai-nilai budaya bangsa.
Karakter bangsa Indonesia sejatinya memiliki kiblat yang jelas dan sandaran yang nyata pada nilai-nilai Pancasila, norma dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, serta kolektivitas yang dikuatkan melalui komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Degradasi Karakter
Tidak bisa dimungkiri bahwa karakter sebagian masyarakat kita terutama remaja telah mulai mengalami pengikisan dan makin menjauh dari nilai-nilai yang seharusnya. Thomas Lickona, dalam bukunya yang berjudul Educating for Character How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility menuturkan bahwa terdapat sepuluh tanda terjadinya degradasi karakter. Kesepuluh tanda tersebut yakni:
(1) Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja
(2) Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk
(3) Pengaruh pertemanan dalam tindak kekerasan
(4) Meningkatnya tindakan merusak diri seperti konsumsi alkohol, narkoba, hingga seks bebas
(5) Makin menjauhnya pedoman moralitas
(6) Menurunnya etos kerja
(7) Rendahnya sikap hormat pada orang tua dan guru
(8) Rendahnya sikap bertanggung jawab
(9) Tidak jujur
(10) Bersikap curiga dan saling benci dengan sesama
Pertanyaan berikutnya, apakah kesepuluh tanda tersebut telah terjadi di sekeliling kita? Jika jawabannya iya maka ini merupakan sebuah kecelakaan besar bagi kita apabila hal tersebut tidak sesegera mungkin diatasi, karena kesepuluh tanda itu dapat memicu terjadinya kehancuran bangsa.
Rendahnya karakter suatu bangsa berimplikasi luas pada beragam aspek kehidupan, maraknya kriminalitas, tingginya tindakan-tindakan yang tidak bermoral, hingga sikap apatis merupakan sebagian kecil daripada implikasi yang disebabkan degradasi karakter bangsa. Maka dari itu penguatan pendidikan karakter menjadi suatu hal yang harus terus digalakkan guna mengatasi dan menghindarkan generasi muda bangsa ini dalam jurang keburukan yang lebih jauh lagi.
Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter
Terdapat tiga lingkungan yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan pendidikan karakter individu, yakni lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan inilah yang oleh Ki Hadjar Dewantara disebut sebagai "Tri Pusat Pendidikan Karakter".
Keluarga sebagai tempat utama dalam kehidupan individu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses pembangunan karakter. Kebersamaan serta interaksi yang terjadi dalam keluarga menjadi modal yang sangat penting untuk meningkatkan karakter anggota keluarga terutama bagi anak. Sosok orang tua berperan sentral untuk selalu memberikan contoh dan mengajarkan hal-hal positif di keluarga. Terlebih-lebih ketika anak masih berusia dini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membangun sikap anak yang searah dengan nilai dan moral yang baik.
Dewasa ini digitalisasi berkembang secara masif, sedikit banyak pengaruh gawai turut serta masuk ke dalam rumah. Penggunaan gawai di dalam rumah baik oleh orang tua maupun anak menjadi masalah baru yang terkadang tak disadari secara langsung oleh beberapa keluarga. Kesibukan masing-masing anggota keluarga dengan gawainya dapat mengakibatkan menurunnya interaksi dan perhatian antar anggota keluarga.
Sekalipun gawai dan kecanggihan di dalamnya memberikan banyak kemudahan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, namun dalam ranah pendidikan karakter di keluarga sentuhan kasih sayang dalam bentuk berinteraksi maupun perhatian harus dilakukan secara langsung oleh antar anggota keluarga, tidak bisa diwakilkan melalui ungkapan emosi digital.
Dampak buruk ketidakhadiran orang tua sebagai role model dalam pendidikan karakter yang baik di keluarga adalah kecenderungan anak untuk mencari pengetahuan lain yang terkadang terjadi secara tak beraturan dan bahkan tidak disertai filter sehingga dapat mengakibatkan dikonsumsinya beragam konten digital yang tidak sesuai untuk kategori usianya.
Pendidikan karakter juga dapat dikuatkan di sekolah. Sebagai sarana formal yang memiliki kurikulum serta aktivitas yang terprogram dengan baik, sekolah menjadi salah satu garda terdepan dalam membina karakter mulai dari usia dini hingga remaja. Proses pembelajaran, pembiasaan, maupun ekstrakurikuler menjadi sarana yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan karakter.
Namun, dalam mendorong penguatan pendidikan karakter, kita mesti keluar terlebih dahulu dari stereotipe yang selalu cenderung menilai bahwa pendidikan karakter hanyalah tugas orang tua dan para guru di sekolah. Lingkungan masyarakat sejatinya memiliki peran yang tak kalah penting dalam menunjang karakter para remaja. Remaja cenderung memiliki sifat peniru, maka dari itu sebagai masyarakat kita mesti memahami bahwa lingkungan sosial saat ini terjadi secara langsung maupun bersifat online sehingga sikap baik harus dilakukan selaras di antara keduanya untuk memberikan keteladanan bagi mereka.
Selebihnya, pendidikan karakter di lingkungan masyarakat turut menjadi tanggung jawab beberapa pihak baik pemerintah, komunitas sosial, akademisi, hingga media massa untuk dapat turut berpartisipasi dengan kapasitasnya masing-masing. Baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat, pendidikan karakter harus terus dilaksanakan secara serentak dan sevisi guna melahirkan generasi yang lebih baik.
Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Pendidikan Karakter bagi Remaja Tanggung Jawab Kita Semua, https://bangka.tribunnews.com/2023/02/11/pendidikan-karakter-bagi-remaja-tanggung-jawab-kita-semua